.: Selamat Datang di Situs Resmi Badan Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Wonogiri:.
  • KEPALA DAN SEGENAP KARYAWAN BADAN KB,KS DAN PP KAB.WONOGIRI
  • Katakan TIDAK pada NARKOBA!!!
    Buktikan, saatnya yang muda yang berprestasi, TANPA NARKOBA..
  • IBU YANG BERKUALITAS ADALAH ASET UMAT MANUSIA MASA DEPAN MENUJU KELUARGA KECIL, BAHAGIA DAN SEJAHTERA.
    STOP KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK.
  • Ayo Ikut KB! Dua anak CUKUP
  • Selamat datang di Situs Resmi Badan Keluarga Berencana, Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Kabupaten Wonogiri
Berita
Hits: 833 | Ditulis pada: 14/01/2013 00:00

JAKARTA, bkkbn online

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan melakukan penggarapan yang kuat terhadap remaja. Sebanyak 62 juta remaja di Indonesia saat ini sangat potensial melahirkan.  Hal ini dapat dilihat dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang menunjukkan remaja usia 20-24 tahun, khususnya di desa-desa saat ini sudah menjadi ibu.

Menurut Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Dr Sudibyo Alimoeso, kondisi tersebut menunjukkan bahwa usia pernikahan sudah semakin muda. Target BKKBN ingin menurunkan tingkat pernikahan dari 35 per 1.000 pernikahan (hasil SDKI 2007) menjadi 30 per 1.000 pernikahan. Namun ternyata SDKI 2012 malah naik menjadi 41 per 1.000 pernikahan.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan kinerja program KKB selama lima tahun (2007-2012) berjalan stagnan. Dampaknya, target pembangiunan millennium (Millenium Development Goals/MDGs)  2015 akan sulit tercapai terutama dalam upaya penurunan angka kematian ibu.

“Agar KB bangkit, peran pemerintah daerah harus ditingkatkan karena urusan KB mutlak menjadi urusan pemerintah kabupaten/kota. Ini tertuang jelas dalam undang-undang terkait otonomi daerah,” kata Sudibyo.

Ada 10 provinsi penyangga yang harus menjadi perhatian atau menjadi fokus utama penggarapan program KB. Yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung , dan  Provinsi Sulawesi Selatan.

“Memang perlu dilakukan sejumlah perubahan strategi dalam pelaksanaan KB ke depan. Contoh,  adanya   contraceptive prevalence rate/CPR (peserta KB aktif) tinggi, TFR (total fertility rate) atau  rata-rata wanita subur yang melahirkan tidak juga turun. Ini menunjukan strategi KB sebelumnya perlu dimodifikasi,” kata Sudibyo.

Idealnya jika peserta KB kebanyakan menggunakan kontrasepsi jangka pendek, maka upaya pembinaan harus kuat. Idealnya petugas dan kader aktif membawakan pil KB serta mengingatkan peserta untuk mengulang suntik setiap tiga bulan pada peserta,

Selain CPR, SDKI 2012 mencatat TFR pada tahun ini masih berada di kisaran 2,6 per perempuan usia subur. Ini artinya rata-rata TFR 2012 masih sama dengan 2007 dan gagal mencapai target 2,4 pada tahun ini.(kkb2)